Touch relaxation atau sentuhan relaksasi biasanya dimulai dari bayi cukup bulan usia 0-3 bulan. Dimana gerakan-gerakan relaksasi yang bisa dilakukan dapat berupa goyangan-goyangan ringan, ayunan-ayunan lembut ataupun tepukan-tepukan halus.
Teknik touch relaxation sebenarnya mudah dan sangat sederhana. Dapat dikerjkan secara mandiri atau bersama-sama pada waktu pijat bayi. Misalnya, diwaktu ibu mulai memijat kaki bayi, ternyata kaki bayi menegang dan kaku. Untuk mengatsinya, gunakan sentuhan-sentuhan relaksasi dan suara ibu agar kaki bayi menjadi rileks dan lemas kembali.
Mulailah dengan memegang kaki bayi, lalu goyang-goyangkan dengan lembut disertai dengan tepukan-tepukan halus. Katakan pada bayi, untuk melemaskan kakinya dengan nada yang lembut. Begitu dirasakan kaki bayi melemas berikan relaksasi yang positif dengan memujinya. Misalnya, dengan mengatakan " Aduh pintarnya" atau ciumlah dia.
Touch relaxatio ini dapat dikerjakan di setiap bagian badan bayi seperti di daera pundak, tangan maupun perut. Sentuhan relaksasi ini juga dapat dipakai untuk memulai gerakan pada setiap bagian badan bayi.
Artikel Yang Berkaitan
1. Mengenal Lebih Lanjut Prilaku Self Injury
2. Mengajarkan Anak Untuk Meminta Maaf.
3. Agar Anak Berprestasi Di Sekolah.
4. Upaya Menghilangkan Kebiasaan Buruk Anak.
5. Bagaimana Agar Lebih Dekat Dengan Anak.
6.Mengenali Masa Peka Belajar Anak.
7. Bagaimana Menasehati Anak.
8. Dampak Psikologis Atas Labeling Terhadap Anak.
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Maret 2011
Touch Relaxation
Selasa, 21 September 2010
Mengenal Lebih Lanjut Prilaku Self Injury
Self injury merupakan kelainan psikologis yang jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari bukan karena jumlah kasus ini sedikit namun karena kasus-kasus yang ada merupakan suatu "fenomena gunung es". Saat ini terdapat kecenderungan semakin meningkatnya jumlah remaja dan dewasa muda yang melakukan self injury sehingga topik ini harus dipahami dengan lebih baik. Seringkali kasus self injury menimbulkan kesulitan baik untuk pelaku sendiri maupun terhadap psikiater yang bertugas menjadi terapisnya. Jika tidak ditangani secara tepat maka self injury dapat berubah menjadi usaha bunuh diri yang nyata.
Self injury (menyakiti/melukai diri sendiri) dapat didefinisikan sebagai tindakan mutilasi (mencacati) pada tubuh atau bagian tubuh dengan sengaja, tidak dengan tujuan bunuh diri tetapi sebagai suatu cara untuk melampiaskan emosi-emosi yang terlalu menyakitkan untuk diekspresikan dengan kata-kata. Self injury dapat berupa mengiris, menggores kulit atau membakarnya, atau mememarkan tubuh lewat kecelakaan yang sudah direncanakan sebelumnya. Dalam kasus-kasus yang lebih ekstrim mereka bahkan mematahkan tulang-tulang mereka sendiri, memakan barang-barang yang berbahaya, mengamputasi tubuh mereka sendiri, atau menyuntikkan racun ke dalam tubuh.
Self injury berkaitan dengan riwayat trauma dan kekerasan di masa lalu, gangguan makan, atau biasanya dapat ditemui pada seseorang dengan ciri kepribadian tertentu seperti memiliki kepercayaan diri yang rendah atau memiliki perfeksionisme yang tinggi. Terdapat korelasi statistik yang positif antara self injury dan riwayat kekerasan emosional.
Walaupun perilaku ini nampaknya ekstrim namun sebenarnya kita tetap dapat melihat perilaku self injury dalam kelompok masyarakat yang 'sehat'. Misalnya menggigiti kuku, memencet jerawat, atau menggaruk bekas gigitan nyamuk sampai berdarah. Ada banyak juga orang-orang yang rela mengikuti diet hingga kelaparan hanya supaya dapat memakai celana ukuran tertentu. Jadi harus diperhatikan bahwa sebenarnya banyak orang yang melakukannya namun yang harus diperhatikan adalah bila kegiatan ini sudah membutuhkan perhatian khusus.
Terdapat beberapa tipe self injury yaitu antara lain:
1. Major self-mutilation
Didefinisikan sebagai melakukan tindakan yang secara signifikan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki seperti semula pada organ-organ besar tubuh misalnya saja memotong tungkai atau mencungkil mata. Jenis self injury ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang menderita psikosis.
2. Streotypic self injury
Merupakan bentuk self injury yang lebih ringan namun sifatnya lebih berulang. Self injury tipe ini biasanya meliputi perilaku berulang seperti membenturkan kepala pada lantai. Individu yang melakukannya biasanya memiliki kelainan saraf seperti autisme atau sindroma Tourette.
3. moderate/superficial self-mutilation.
Moderate/superficial self mutilation sendiri masih memiliki tiga buah subtipe yaitu episodik, repetitif, dan kompulsif. Tipe kompulsif secara mendasar memiliki kesamaan dengan gangguan psikologis seperti gangguan obsesif-kompulsif. Tipe ini biasanya lebih kurang disadari oleh pelakunya dan biasanya bukan dilakukan untuk mencapai pelepasan namun lebih sebagai kompulsi. Sedangkan self injury yang bersifat repetitif dan episodik bervariasi pada banyak cara. Keduanya terjadi pada episode di mana self injury bermanifestasi pada waktu-waktu yang spesifik. Sedangkan pada pelaku self injury tipe moderate/superficial self mutilation yang bersifat repetitif, self injury sudah dianggap sebagai bagian yang krusial dari kepribadian mereka dan mereka menunjukan dirinya dengan melakukan self injury.
Gambaran yang umumnya didapatkan dari seorang pelaku self injury adalah sebagai berikut :
a. Sangat tidak menyukai dirinya sendiri.
b. Hipersensitif terhadap penolakan.
c. Memiliki kemarahan kronis, biasanya terhadap diri sendiri.
d. Bertendensi menekan kemarahan.
e. Memiliki tingkat perasaan agresif yang tinggi di mana umumnya pelaku tidak menunjukannya dan cenderung merepresi perasaan tersebut.
f. Lebih impulsif dan pengendalian impulsnya terganggu.
g. Bertendensi tidak memiliki rencana untuk masa depannya.
h. Umumnya depresi dan merusak dirinya sendiri atau melakukan usaha bunuh diri.
i. Mengidap kecemasan yang kronis.
j. Sering mengalami iritabilitas.
k. Tidak memiliki kemampuan mekanisme coping yang baik.
l. Tidak sadar bahwa mereka memiliki kontrol yang besar untuk bertahan hidup.
m. Bertendensi untuk menghindar.
n. Tidak menyadari bahwa mereka memiliki kekuasaan atas dirinya.
Self-injury memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan adiksi. Si penderita merasakan dorongan yang tak terkendali untuk melakukan perilaku menyakiti dirinya sendiri, yang semakin lama semakin sering agar dapat merasakan efek yang ditimbulkan kemudian yaitu timbulnya ketenangan dan redanya ketegangan. Para pelaku self-injury mengalami dorongan untuk mencacati diri paling tidak sama kuatnya dengan dorongan seorang perokok berat untuk merokok.
Self injury (menyakiti/melukai diri sendiri) dapat didefinisikan sebagai tindakan mutilasi (mencacati) pada tubuh atau bagian tubuh dengan sengaja, tidak dengan tujuan bunuh diri tetapi sebagai suatu cara untuk melampiaskan emosi-emosi yang terlalu menyakitkan untuk diekspresikan dengan kata-kata. Self injury dapat berupa mengiris, menggores kulit atau membakarnya, atau mememarkan tubuh lewat kecelakaan yang sudah direncanakan sebelumnya. Dalam kasus-kasus yang lebih ekstrim mereka bahkan mematahkan tulang-tulang mereka sendiri, memakan barang-barang yang berbahaya, mengamputasi tubuh mereka sendiri, atau menyuntikkan racun ke dalam tubuh.
Self injury berkaitan dengan riwayat trauma dan kekerasan di masa lalu, gangguan makan, atau biasanya dapat ditemui pada seseorang dengan ciri kepribadian tertentu seperti memiliki kepercayaan diri yang rendah atau memiliki perfeksionisme yang tinggi. Terdapat korelasi statistik yang positif antara self injury dan riwayat kekerasan emosional.
Walaupun perilaku ini nampaknya ekstrim namun sebenarnya kita tetap dapat melihat perilaku self injury dalam kelompok masyarakat yang 'sehat'. Misalnya menggigiti kuku, memencet jerawat, atau menggaruk bekas gigitan nyamuk sampai berdarah. Ada banyak juga orang-orang yang rela mengikuti diet hingga kelaparan hanya supaya dapat memakai celana ukuran tertentu. Jadi harus diperhatikan bahwa sebenarnya banyak orang yang melakukannya namun yang harus diperhatikan adalah bila kegiatan ini sudah membutuhkan perhatian khusus.
Terdapat beberapa tipe self injury yaitu antara lain:
1. Major self-mutilation
Didefinisikan sebagai melakukan tindakan yang secara signifikan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki seperti semula pada organ-organ besar tubuh misalnya saja memotong tungkai atau mencungkil mata. Jenis self injury ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang menderita psikosis.
2. Streotypic self injury
Merupakan bentuk self injury yang lebih ringan namun sifatnya lebih berulang. Self injury tipe ini biasanya meliputi perilaku berulang seperti membenturkan kepala pada lantai. Individu yang melakukannya biasanya memiliki kelainan saraf seperti autisme atau sindroma Tourette.
3. moderate/superficial self-mutilation.
Moderate/superficial self mutilation sendiri masih memiliki tiga buah subtipe yaitu episodik, repetitif, dan kompulsif. Tipe kompulsif secara mendasar memiliki kesamaan dengan gangguan psikologis seperti gangguan obsesif-kompulsif. Tipe ini biasanya lebih kurang disadari oleh pelakunya dan biasanya bukan dilakukan untuk mencapai pelepasan namun lebih sebagai kompulsi. Sedangkan self injury yang bersifat repetitif dan episodik bervariasi pada banyak cara. Keduanya terjadi pada episode di mana self injury bermanifestasi pada waktu-waktu yang spesifik. Sedangkan pada pelaku self injury tipe moderate/superficial self mutilation yang bersifat repetitif, self injury sudah dianggap sebagai bagian yang krusial dari kepribadian mereka dan mereka menunjukan dirinya dengan melakukan self injury.
Gambaran yang umumnya didapatkan dari seorang pelaku self injury adalah sebagai berikut :
a. Sangat tidak menyukai dirinya sendiri.
b. Hipersensitif terhadap penolakan.
c. Memiliki kemarahan kronis, biasanya terhadap diri sendiri.
d. Bertendensi menekan kemarahan.
e. Memiliki tingkat perasaan agresif yang tinggi di mana umumnya pelaku tidak menunjukannya dan cenderung merepresi perasaan tersebut.
f. Lebih impulsif dan pengendalian impulsnya terganggu.
g. Bertendensi tidak memiliki rencana untuk masa depannya.
h. Umumnya depresi dan merusak dirinya sendiri atau melakukan usaha bunuh diri.
i. Mengidap kecemasan yang kronis.
j. Sering mengalami iritabilitas.
k. Tidak memiliki kemampuan mekanisme coping yang baik.
l. Tidak sadar bahwa mereka memiliki kontrol yang besar untuk bertahan hidup.
m. Bertendensi untuk menghindar.
n. Tidak menyadari bahwa mereka memiliki kekuasaan atas dirinya.
Self-injury memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan adiksi. Si penderita merasakan dorongan yang tak terkendali untuk melakukan perilaku menyakiti dirinya sendiri, yang semakin lama semakin sering agar dapat merasakan efek yang ditimbulkan kemudian yaitu timbulnya ketenangan dan redanya ketegangan. Para pelaku self-injury mengalami dorongan untuk mencacati diri paling tidak sama kuatnya dengan dorongan seorang perokok berat untuk merokok.
Jumat, 17 September 2010
Agar Anak Berprestasi Di Sekolah
Ada beberapa hal yang membuat prestasi anak Anda lebih rendah dari kemampuannya yang sebenarnya. Penyebabnya tentu saja sangat komplek. Beberapa anak akan sulit untuk dibantu aripada anak yang lain. Karena itu, sebelum mencoba memberikan bantuan kepada anak Anda, hal pertama yang harus Anda akukan adalah mencari penyebab mengapa potensi anak Anda tidak bisa tergali sepenuhnya.
Takut gagal
Banyak anak yang tidak mau berprestasi tinggi karena mereka merasa jauh lebih aman tidak mencoba sama sekali daripada gagal. Anak yang rentan terhadap gejala ini adalah anak yang merasa dirinya kurang dihargai, atau anak yang kakak atau adiknya berprestasi lebih tinggi dibanding dirinya. Atau anak yang sering mendapatkan tekanan dari orangtua supaya berprestasi tinggi. Karena itu, mereka lebih suka dicap malas daripada dikatakan bodoh atau tidak sepintar kakak atau adiknya.
Kurang dimotifasi
Beberapa anak bahkan tidak tau harus ke mana dan apa gunanya sekolah. Mereka kehilangan motifasi atau tidak merasakan apa enaknya sekolah. Mereka cukup disadarkan, bahwa pendidikan adalah untuk mencapai tujuan tertentu atau agar bisa bekerja di bidang tertentu.
Pengaruh teman
Sulit untuk mengarahkan anak yang tak biasa merasakan apa enaknya jika berprestasi bagus. Anak yang dikucilkan orang tua lebih suka mendengarkan anjuran dan nasehat teman-temannya dalam belajar ketimbang diperintah orang tuanya. Tindakan ang paling efektif adalah mengajak anak untuk memikirkan tujuan yang akan dicapainya di masa depan dan hanya memfokuskan perhatian pada mata pelajaran yang disukainya. Tanamkan dan kembangkan terus rasa percaya diri serta tonjolkan kemampuannya. Terkadang, mungkin anak terpaksa dipindahkan ke sekolah lain,untuk menghindarkan pengaruh buruk dari teman-temannya.
Tidak bisa mengatur waktu
Sering anak juga tak bisa berprestasi baik jika tak bisa mengatur atau membagi waktu. Perhatikan, apakah prestas buruk ini benarkarena anak Anda tak bisa membagi waktu. Terkadang, hal ini terkait dengan beberapa penyebab yang sudah disebutkan di atas. Tapi jika penyebabnya benar-benar karena anak tidak bisa membagi waktu, prestasi akan membaik jika anak sudah diajari bagaimana cara membagi waktu yang baik. Misalnya dengan membuat jadwal belajar. Atau membuat catatan harian tentang tugas yang harus dikerjakan pada hari itu.
Masalah emosional
Masalah emosional berkaitan dengan perubahan keadaan atau situasidi rumah tangga akibat meninggalnya anggota keluarga dekat, perceraian, atau peristiwa buruk tertentu yang menimbulkan trauma. Atau anak menjadi putus asakarena menderita penyakit tertentu yang penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama. Masalah emosional ini sebaiknya ditangani dengan hati-hati. Atau kalau ragu, Anda bisa meminta bantuan psikolog atau guru bimbingan dan penyuluhan di sekolah anak Anda.
Sangsi atau hukuman
Salah satu jalan efektif yang kembali digunakan orang tua adalah menghukum anak jika mendapatkan nilai yang jelek. Dalam hal ini, harus benar-benar dipisahkan antara masalah sekolah dengan konflik di keluarga. Bisa saja anak mendapat nilai jelek terus karena karena memang sedang ada konflik di keluarga. Jika ini masalahnya, jangan menghukum anak Anda. Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan ahli pendidikan atau psikolog.
Hidup senang
Murid yang beranggapan segala sesuatu harus bersifat menghibur dan menyenangkan sering harus berjuang keras jika suatu pelajaran tidak seberapa menarik jika dibandingkan dengan harapannya. Tipe murid ini cendruk memilih-milih pekerjaan. Prilaku seperti ini akan cendrung sulit untuk diperbaiki jika orang tua selalu berusaha melindungi anaknya dari rasa kecewa lalu melimpahi anaknya dengan berbagai hadiah.
Takut gagal
Banyak anak yang tidak mau berprestasi tinggi karena mereka merasa jauh lebih aman tidak mencoba sama sekali daripada gagal. Anak yang rentan terhadap gejala ini adalah anak yang merasa dirinya kurang dihargai, atau anak yang kakak atau adiknya berprestasi lebih tinggi dibanding dirinya. Atau anak yang sering mendapatkan tekanan dari orangtua supaya berprestasi tinggi. Karena itu, mereka lebih suka dicap malas daripada dikatakan bodoh atau tidak sepintar kakak atau adiknya.
Kurang dimotifasi
Beberapa anak bahkan tidak tau harus ke mana dan apa gunanya sekolah. Mereka kehilangan motifasi atau tidak merasakan apa enaknya sekolah. Mereka cukup disadarkan, bahwa pendidikan adalah untuk mencapai tujuan tertentu atau agar bisa bekerja di bidang tertentu.
Pengaruh teman
Sulit untuk mengarahkan anak yang tak biasa merasakan apa enaknya jika berprestasi bagus. Anak yang dikucilkan orang tua lebih suka mendengarkan anjuran dan nasehat teman-temannya dalam belajar ketimbang diperintah orang tuanya. Tindakan ang paling efektif adalah mengajak anak untuk memikirkan tujuan yang akan dicapainya di masa depan dan hanya memfokuskan perhatian pada mata pelajaran yang disukainya. Tanamkan dan kembangkan terus rasa percaya diri serta tonjolkan kemampuannya. Terkadang, mungkin anak terpaksa dipindahkan ke sekolah lain,untuk menghindarkan pengaruh buruk dari teman-temannya.
Tidak bisa mengatur waktu
Sering anak juga tak bisa berprestasi baik jika tak bisa mengatur atau membagi waktu. Perhatikan, apakah prestas buruk ini benarkarena anak Anda tak bisa membagi waktu. Terkadang, hal ini terkait dengan beberapa penyebab yang sudah disebutkan di atas. Tapi jika penyebabnya benar-benar karena anak tidak bisa membagi waktu, prestasi akan membaik jika anak sudah diajari bagaimana cara membagi waktu yang baik. Misalnya dengan membuat jadwal belajar. Atau membuat catatan harian tentang tugas yang harus dikerjakan pada hari itu.
Masalah emosional
Masalah emosional berkaitan dengan perubahan keadaan atau situasidi rumah tangga akibat meninggalnya anggota keluarga dekat, perceraian, atau peristiwa buruk tertentu yang menimbulkan trauma. Atau anak menjadi putus asakarena menderita penyakit tertentu yang penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama. Masalah emosional ini sebaiknya ditangani dengan hati-hati. Atau kalau ragu, Anda bisa meminta bantuan psikolog atau guru bimbingan dan penyuluhan di sekolah anak Anda.
Sangsi atau hukuman
Salah satu jalan efektif yang kembali digunakan orang tua adalah menghukum anak jika mendapatkan nilai yang jelek. Dalam hal ini, harus benar-benar dipisahkan antara masalah sekolah dengan konflik di keluarga. Bisa saja anak mendapat nilai jelek terus karena karena memang sedang ada konflik di keluarga. Jika ini masalahnya, jangan menghukum anak Anda. Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan ahli pendidikan atau psikolog.
Hidup senang
Murid yang beranggapan segala sesuatu harus bersifat menghibur dan menyenangkan sering harus berjuang keras jika suatu pelajaran tidak seberapa menarik jika dibandingkan dengan harapannya. Tipe murid ini cendruk memilih-milih pekerjaan. Prilaku seperti ini akan cendrung sulit untuk diperbaiki jika orang tua selalu berusaha melindungi anaknya dari rasa kecewa lalu melimpahi anaknya dengan berbagai hadiah.
Kamis, 09 September 2010
Mengajarkan Anak Untuk Meminta Maaf
Pada dasarnya meminta maaf merupakan nilai dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Dimana kita sebagai manusia seringkali berbuat salah, sehingga kata maaflah yang hendaknya diucapkan jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain. Tentu saja dibarengi dengan prilaku untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Namun,sering kali kata itu sulit terucap walaupun kita tahu kita berbuat salah.
Mengajarkan untuk meminta maaf sebenarnya bisa dilakukan dari anak masih bayi, yaitu dengan memberi contoh pada anak bagaimana berprilaku meminta maaf. Anak mudah sekali meniru apa yang telah dilihatnya. Jika menginginkan anak bisa meminta maaf maka orang tua harus bisa meminta maaf. Anak bisa melihat dan mencontoh bahwa jika orang tua berbuat salah maka akan meminta maaf dan saling memaafkan.
Selain itu orang tua juga bisa mengajarkan dengan cara meminta anak meminta maaf ketika ia berbuat salah. Hal ini bisa dilakukan ketika anak sudah mulai bisaberbicara atau sudah mulai masuk ke dalam lingkungan sosial.
Meminta maaf ini sangat penting artinya bagi orang tua maka ketika anak berbuat salah jangan sekali-kali memaksa anak untuk meminta maaf. Hal ini bukan membuat anak bersedia meminta maaf tetapi malahan membuat anak menjadi takut. Bila anak selalu disalahkan, anak bisa menjadi rendah diri, takut disalahkan, merasa diri dicap nakal, dan semakin terbentuk sifat nakalnya.
Untuk anak usia 2-3 tahun anak masih memiliki ego yang sangat tinggi dan belum bisa melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Karena itu orang tua perlu bersabar dalam mengajarkam anaknya untuk meminta maaf.
Ada juga cara lain yang ampuh dalam mengajarkan anak untuk meminta maaf maupun mengajarkan nilai kebaikan yang lain, yaitu dengan dongeng atau sandiwara boneka. Dari cerita-cerita yang dilahirkan anak akan lebih mudah menangkap nilai moral yang ada dalam cerita tersebut.
Bila anak sudah mulai memasuki usia sekolah secara berlahan-lahan ia mulai belajar melihat dari perspektif orang lain. Yang perlu orang tua sadari adalah tidak menghakimi anak di depan banyak orang atau teman-temannya, karena akan membuat anak menjadi rendah diri. Ajak anak untuk brbicara berdua dan jelaskan mengenai kesalahannya. Berikan anak dorongan positif untuk meminta maaf.
Mengajarkan anak untuk meminta maaf juga bukanlah hanya sekedar perintah, tetapi orang tua juga harus bisa menjelaskan kepada anak kenapa ia harus meminta maaf. Orang tua juga bisa membuat suatu stimulasi jika anak masih merasa takut untuk meminta maaf. Pada saat stimulasi ini ajarkan anak bagaimana cara bicaranya kemudian ajak anak menemui orang yang ingin dimintai maaf, kalau anak merasa takut maka temani dia ketika meminta maaf.
Orang tua juga perlu untuk menekankan pada anak bahwa perkataan maaf bukan hanya sekedar dimulut saja, melainkan juga harus ada aksi yang menyatakan bahwa ia menyesal, ada konsekwensi yang harus diambil jika ia membuat kesalahan. Sehingga dengan meminta maaf seorang anak tidak hanya mengerti bagaimana bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya tetapi juga mampu menempatkan diri pada posisi orang lain.
Jumat, 03 September 2010
Upaya Menghilangkan Kebiasaan Buruk Pada Anak
Si kecil yang nakal dan susah diatur adalah hal yang wajar, bahkan ini adalah pertanda anak yang sehat dan normal. Bila sikecil berlaku seperti itu hendaknya kita sebagai orang tua jangan langsung mengambil jalan pintas, misalkan dengan memberi hadiah atau upah agar mau nurut, ini tidak baik bagi perkembangan jiwa si kecil. Hal ini malahan akan membuat si kecil menjadi kebiasaan, sehingga ia hanya mau disuruh berbuat baik jika mendapat upah atau hadiah. Hendaknya kita sebagai orang tuanya sebisa mungkin menanamkan keikhlasan dalam beraktifitas.
Berikut ini beberapa tip yang bisa menjadi alternatif dalam upaya menghilangkan kebiasan buruk pada anak.
[1]. Menemani beraktifitas sambil memberikan pengertian sederhana tentang pentingnya niat yang baik dalam mengerjakan sesuatu. Karena sesuatu aktifitas bila didahului dengan niat yang baik tentu hasilnya juga baik.
[2]. Latih kebiasaan baik sejak dini, dalam hal ini perlu adanya teladan dari orang tua dan segenap keluarga.
[3]. Kalau memberikan hadiah atau upah, jangan terkesan sekedar ingin dipatuhi, tetapi penghargaan atas kerja kerasnya. Sangat baik disampaikan tentang baiknya keikhlasan dan pahala dari Allah Swt. Ceritakan bahwa Allah selalu melihat perbuatan kita dan menyayangi anak-anak yang ikhlas dan rajin.
[4]. Berikan buku/majalah tentang anak salih yang rajin, hidup sehat dan teratur.
[5]. Hendaknya diawasi teman sepermainannya, agar tak terimbas kejelekan teman.
Jangan lupa tentunya kita sebagai orang tua hendaknya memberikan pengertian dengan pendekatan-pendekatan yang positif yang disertai dengan kesabaran dan manajemen yang baik. Sehingga apa yang Anda usahakan dapat diterima anak dengan baik dan dengan penuh kesadaran.
Berikut ini beberapa tip yang bisa menjadi alternatif dalam upaya menghilangkan kebiasan buruk pada anak.
[1]. Menemani beraktifitas sambil memberikan pengertian sederhana tentang pentingnya niat yang baik dalam mengerjakan sesuatu. Karena sesuatu aktifitas bila didahului dengan niat yang baik tentu hasilnya juga baik.
[2]. Latih kebiasaan baik sejak dini, dalam hal ini perlu adanya teladan dari orang tua dan segenap keluarga.
[3]. Kalau memberikan hadiah atau upah, jangan terkesan sekedar ingin dipatuhi, tetapi penghargaan atas kerja kerasnya. Sangat baik disampaikan tentang baiknya keikhlasan dan pahala dari Allah Swt. Ceritakan bahwa Allah selalu melihat perbuatan kita dan menyayangi anak-anak yang ikhlas dan rajin.
[4]. Berikan buku/majalah tentang anak salih yang rajin, hidup sehat dan teratur.
[5]. Hendaknya diawasi teman sepermainannya, agar tak terimbas kejelekan teman.
Jangan lupa tentunya kita sebagai orang tua hendaknya memberikan pengertian dengan pendekatan-pendekatan yang positif yang disertai dengan kesabaran dan manajemen yang baik. Sehingga apa yang Anda usahakan dapat diterima anak dengan baik dan dengan penuh kesadaran.
Bagaimana Cara Agar Lebih Dekat Dengan Anak
Agar anak tidak merasa jauh dari orang tua maka kedekatan antara orang tua harus senantiasa dibangun. Untuk membangun hal itu, sebagai orang tua Anda harus melakukan sesuatu. Faktor dari orang tua menjadi penentu dalam hal ini. Berikut beberapa hal yang bisa dijadikan arahan untuk membangun kedekatan Anda dengan anak.
[1]. Kesiapan mental untuk menjadi orang tua
Memiliki anak membawa implikasi yang luas. tidak hanya merubah peran dari suami/istri menjadi ayah/ibu. Ada komitmen dan tanggung jawab yang harus disadari dan dijalankan. Oleh sebab itu, perlu hati dan pikiran yang tenang untuk menjalani proses menjadi orang tua. Selain itu, kesiapan mental juga diperlukan, terutama untuk menghindari konflik dan ketegangan yang uncul diantara suami-istri akibat perubahan yang terjadi.
[2]. Menciptakan komunikasi yang hangat sejak dini.
Berkomunikasi dengan anak tidak dimulai sejak anak lahi, melainkan sejak ia masih dalam kandungan. Sejak itu proses kasih sayang pun hendaknya dimulai. Berbicaralah padanya meski ia masih belum tampak secara lahiriah. Sapalah dia, senyumlah untuknya dan pertahankan kesetabilan emosi. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa seorang anak bisa memahami apa yang terjadi dalam diri sang ibu meski ia belum lahir. Hal itu, bisa dibuktikan dari munculnya kecendrungan tertentu yang ada pada anak, misalnya rasa cemas, super sensitif atau pemarah dihubngkan dengan persoalan yang sedang dihadapi sang ibu pada masa dan pasca kehamilan.
[3]. Upayakan program menyusui
Proses menyusui, bukan hanya sekedar memberikan asi yang berkualitas. Namun menyusui merupakan proses yang melibatkan dua belah pihak, bahkan tiga belah pihak (suami, istri, dan anak). Kegiatan menyusui merupakan momen yang ideal untuk membangun kontak batin yang erat, melalui kelekatan fisik dan kontak mata yang intensif. Proses ini membutuhkan hati yang tenang dan penuh kasih, karena produksi ASI akan terengaruh oleh faktor fisik dan emosional.
[4]. Tanggapilah tangisan bayi/ anak secara positif
Melalui tangisan seorang bayi dapat mengkomunikasikan ketakutannya, kelaparan, kehausan, keinginannya akan kehangatan, keinginanya untuk dibelai, rasa tidak enak, kedinginan, kepanasan dan rasa tidak enak yang lain. Tangisan bayi adalah murni muncul dari kebutuhannya. Bayangkan, jika orang tua menunda respon terhadap ketakutannya, maka bayi akan merasa frustasi.
[5]. Upayakan kebersamaan dalam keluarga inti
Banyak keluarga yang menggunakan jasa baby sitter untuk mengasuh anak. Ironisnya, ada ibu rumah tangga yang tidak bekerja tidak mempunya kegiatan apapun kecuali arisan, kesalon dan sopping, mempunyai banyak asisten dan pembantu. Anaknya pun sepenuhnya diurus oleh baby sitter. Tidaklah mengherankan jika kelak antara dia dan anaknya tidak terlihat suatu kedekatan yang positif, karena anaknya lebih dekat dengan pengasuhnya.
Kedekatan yang positif membutuhkan kerja sama antara setiap anggota keluarga. Perlu disediakan waktu kebersamaan yang konsisten, dipenuhi perasaan tenang, senang dan sanai, agar anak bisa merasakan senangnya kebersamaan dengan ayah maupun ibunya. Tetapi, orang tua juga harus belajar dari anak, dan melihat hasil didikannya selama ini melalui sikap dan prilaku anak.
[1]. Kesiapan mental untuk menjadi orang tua
Memiliki anak membawa implikasi yang luas. tidak hanya merubah peran dari suami/istri menjadi ayah/ibu. Ada komitmen dan tanggung jawab yang harus disadari dan dijalankan. Oleh sebab itu, perlu hati dan pikiran yang tenang untuk menjalani proses menjadi orang tua. Selain itu, kesiapan mental juga diperlukan, terutama untuk menghindari konflik dan ketegangan yang uncul diantara suami-istri akibat perubahan yang terjadi.
[2]. Menciptakan komunikasi yang hangat sejak dini.
Berkomunikasi dengan anak tidak dimulai sejak anak lahi, melainkan sejak ia masih dalam kandungan. Sejak itu proses kasih sayang pun hendaknya dimulai. Berbicaralah padanya meski ia masih belum tampak secara lahiriah. Sapalah dia, senyumlah untuknya dan pertahankan kesetabilan emosi. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa seorang anak bisa memahami apa yang terjadi dalam diri sang ibu meski ia belum lahir. Hal itu, bisa dibuktikan dari munculnya kecendrungan tertentu yang ada pada anak, misalnya rasa cemas, super sensitif atau pemarah dihubngkan dengan persoalan yang sedang dihadapi sang ibu pada masa dan pasca kehamilan.
[3]. Upayakan program menyusui
Proses menyusui, bukan hanya sekedar memberikan asi yang berkualitas. Namun menyusui merupakan proses yang melibatkan dua belah pihak, bahkan tiga belah pihak (suami, istri, dan anak). Kegiatan menyusui merupakan momen yang ideal untuk membangun kontak batin yang erat, melalui kelekatan fisik dan kontak mata yang intensif. Proses ini membutuhkan hati yang tenang dan penuh kasih, karena produksi ASI akan terengaruh oleh faktor fisik dan emosional.
[4]. Tanggapilah tangisan bayi/ anak secara positif
Melalui tangisan seorang bayi dapat mengkomunikasikan ketakutannya, kelaparan, kehausan, keinginannya akan kehangatan, keinginanya untuk dibelai, rasa tidak enak, kedinginan, kepanasan dan rasa tidak enak yang lain. Tangisan bayi adalah murni muncul dari kebutuhannya. Bayangkan, jika orang tua menunda respon terhadap ketakutannya, maka bayi akan merasa frustasi.
[5]. Upayakan kebersamaan dalam keluarga inti
Banyak keluarga yang menggunakan jasa baby sitter untuk mengasuh anak. Ironisnya, ada ibu rumah tangga yang tidak bekerja tidak mempunya kegiatan apapun kecuali arisan, kesalon dan sopping, mempunyai banyak asisten dan pembantu. Anaknya pun sepenuhnya diurus oleh baby sitter. Tidaklah mengherankan jika kelak antara dia dan anaknya tidak terlihat suatu kedekatan yang positif, karena anaknya lebih dekat dengan pengasuhnya.
Kedekatan yang positif membutuhkan kerja sama antara setiap anggota keluarga. Perlu disediakan waktu kebersamaan yang konsisten, dipenuhi perasaan tenang, senang dan sanai, agar anak bisa merasakan senangnya kebersamaan dengan ayah maupun ibunya. Tetapi, orang tua juga harus belajar dari anak, dan melihat hasil didikannya selama ini melalui sikap dan prilaku anak.
Senin, 30 Agustus 2010
Mengenali Masa Peka Belajar Anak
Dalam dunia perkembangan anak, akan tiba suatu masa dimana anak-anak menjadi tertarik untuk mempelajari sesuatu seperti halnya yang dilakukan orang dewasa, yang mereka belum bisa. Pada saat itu, anak menjadi lebih mudah untuk diberikan pengertian, mudah menerima informasi yang diberikan kepadanya, mereka pun akan sangat bersemangat untuk mengetahui segala sesuatu. Disiplin yang diajarkan pun lebih mudah untuk diikutinya karena anak memang sedang membutuhkannya. Anak akan dengan senang hati menerima dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, jadi tidak perlu memerintah atau memaksanya. Inilah yang disebut anak telah memasuki 'masa peka belajar'.
Dalam masa ini, anak sangat tepat sekali apabila diberikan pengajaran akan tugas-tugas yang harus dipelajarinya. Hasilnya pun tentu akan sangat optimal. Anak tidak dapat dipaksa untuk belajar atau mengikuti kegiatan jika ia tidak ingin atau tidak siap melakukannya. Jika dipaksakan mungkin anak mau melakukannya, tetapi tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.
Anak akan banyak belajar sesuatu jika mereka 'siap' untuk belajar. karena betapapun banyak rangsangan yang diterima anak, mereka tidak akan banyak belajar jika anak belum 'siap' untuk melakuknnya. Hal ini akan membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Bahkan paksaan kepada anak yang belum 'siap' untuk belajar justru akan menimbulkan prilaku yang tidak diinginkan, misalkan anak akan belajar kebiasaan buruk dan ogok untuk belajar.
Sebaliknya, jika anak telah memasuki masa peka belajar namun tidak diizinkan atau tidak didorong untuk mengembangkannya, maka minat mereka akan hilang. Kemudian apabila orang tua memutuskan untuk mengajari hal-hal yang sama tersebut, mereka sudah tidak mau untuk berusaha.
Ada beberapa kriteria untuk mengetahui anak sedang dalam 'masa peka belajar', yautu sebagai berikut:
Tingginya minat untuk belajar, biasanya diketahui dari tingginya anak untuk ingin tau segala sesuatu. Anak juga akan mempunyai keinginan yang kuat untuk mencoba dan belajar sendiri.
Minat yang bertahan,terkadang minat anak untuk belajar timbuldari prilaku meniru saudara atau temannya. Namun apabila minat tersebut tetap atau bertahan hingga beberapa waktu lamanya meskipun menghadapi hambatan atau kesulitan, hal ini merupakan petunjuk bahwa anak sedang memasuki 'masa peka belajar'.
Kemajuan, dengan berlatih anak pada masa ini akan menunjukan kemajuan walaupun sedikit dan berangsur-angsur
Kapan usia tepat anak mengalami 'masa peka belajar' tidak dapat ditentukan dengan pasti, akan tetapi banyak usaha yang dilakukan untuk merangsangnya. Namun perlu diingat, pemberian rangsangan tersebut tidak dalam kondisi tekanan atau paksaan. biarkan anak menyesuaikan sendiri. Rangsangan tersebut dapat berupa, antara lain:
a. Membiasakan membacakan kisah saat anak belum bisa membaca dan mengajaknya berdialog tentang kisah tersebut.
b. Menyediakan buku-buku yang menarik, terutama yang dapat menumbuhkan rasa ingin tau anak sehingga tumbuh kecintaan anak terhadap ilmu melalui buku.
c. Menyediakan perpustakaan mini dan sederhana di sudut kamar anak, agar anak tahu kecintaan terhadap buku diperhatikan oleh orang tua.
d. Memanfaatkan fasilitas lain seperti alat permainan edukatif, media audiofisual maupun komputer. Pilihlah permainan yang melatih konsentrasi, daya ingat dan pendengaran, dan melatih motorik halus sehingga otak anak terlatih untuk bekerja.
e. Memberikan motifasi dan pengertian kepada anak pada saat bermain maupun santai, tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan.
f. Mengkondisikan keluarga, semakin banyak orang atau anggota keluarga yang memotifasi akan semakin merangsang keinginannya untuk berkembang.
Dalam masa ini, anak sangat tepat sekali apabila diberikan pengajaran akan tugas-tugas yang harus dipelajarinya. Hasilnya pun tentu akan sangat optimal. Anak tidak dapat dipaksa untuk belajar atau mengikuti kegiatan jika ia tidak ingin atau tidak siap melakukannya. Jika dipaksakan mungkin anak mau melakukannya, tetapi tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.
Anak akan banyak belajar sesuatu jika mereka 'siap' untuk belajar. karena betapapun banyak rangsangan yang diterima anak, mereka tidak akan banyak belajar jika anak belum 'siap' untuk melakuknnya. Hal ini akan membuang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Bahkan paksaan kepada anak yang belum 'siap' untuk belajar justru akan menimbulkan prilaku yang tidak diinginkan, misalkan anak akan belajar kebiasaan buruk dan ogok untuk belajar.
Sebaliknya, jika anak telah memasuki masa peka belajar namun tidak diizinkan atau tidak didorong untuk mengembangkannya, maka minat mereka akan hilang. Kemudian apabila orang tua memutuskan untuk mengajari hal-hal yang sama tersebut, mereka sudah tidak mau untuk berusaha.
Ada beberapa kriteria untuk mengetahui anak sedang dalam 'masa peka belajar', yautu sebagai berikut:
Tingginya minat untuk belajar, biasanya diketahui dari tingginya anak untuk ingin tau segala sesuatu. Anak juga akan mempunyai keinginan yang kuat untuk mencoba dan belajar sendiri.
Minat yang bertahan,terkadang minat anak untuk belajar timbuldari prilaku meniru saudara atau temannya. Namun apabila minat tersebut tetap atau bertahan hingga beberapa waktu lamanya meskipun menghadapi hambatan atau kesulitan, hal ini merupakan petunjuk bahwa anak sedang memasuki 'masa peka belajar'.
Kemajuan, dengan berlatih anak pada masa ini akan menunjukan kemajuan walaupun sedikit dan berangsur-angsur
Kapan usia tepat anak mengalami 'masa peka belajar' tidak dapat ditentukan dengan pasti, akan tetapi banyak usaha yang dilakukan untuk merangsangnya. Namun perlu diingat, pemberian rangsangan tersebut tidak dalam kondisi tekanan atau paksaan. biarkan anak menyesuaikan sendiri. Rangsangan tersebut dapat berupa, antara lain:
a. Membiasakan membacakan kisah saat anak belum bisa membaca dan mengajaknya berdialog tentang kisah tersebut.
b. Menyediakan buku-buku yang menarik, terutama yang dapat menumbuhkan rasa ingin tau anak sehingga tumbuh kecintaan anak terhadap ilmu melalui buku.
c. Menyediakan perpustakaan mini dan sederhana di sudut kamar anak, agar anak tahu kecintaan terhadap buku diperhatikan oleh orang tua.
d. Memanfaatkan fasilitas lain seperti alat permainan edukatif, media audiofisual maupun komputer. Pilihlah permainan yang melatih konsentrasi, daya ingat dan pendengaran, dan melatih motorik halus sehingga otak anak terlatih untuk bekerja.
e. Memberikan motifasi dan pengertian kepada anak pada saat bermain maupun santai, tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan.
f. Mengkondisikan keluarga, semakin banyak orang atau anggota keluarga yang memotifasi akan semakin merangsang keinginannya untuk berkembang.
Jumat, 20 Agustus 2010
Bagaimana Menasehati Anak
Kita sebagai orang tua tentunya harus menjaga prilaku dihadapan buah hati kita. Karena kalau tidak, anak sendiri yang akan meniru prilaku orang tuanya tersebut. Memang benar, anak adalah manusia kecil yang gemar meniru keadaan di sekelilingnya. Karena itulah, orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak mereka agar sang anak juga menjadi manusia yang baik.
Keteladanan memang menjadi faktor penting dalam pendidikan. Namun, keteladanan bukanlah satu-satunya hal yang harus ada dalam pendidikan. Ada faktor-faktor lain yang tidak boleh hilang selain keteladanan, yaitu antara lain nasehat dan pengajaran. Dengan nasehat dan pengajaran yang berkesan, akan terbuka jalan masuk ke dalam jiwa dan hati nurani sebagai pusat pembentukan kepribadian.
Bagaimana menasehati anak
Berikut beberapa kiat dalam menasehati buah hati kita agar nasehat yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik:
* Berbicaralah kepada anak secara langsung dan jelas.
Berbicara secara langsung, tidak bertele-tele dalam memahamkan anak tentang kebenaran, akan menjadikan anak lebih siap dan kuat untuk menerima nasehat tersebut. Kalimat yang digunakan hendaknya memenuhi sifat-sifat kalimat edukatif yang baik, yakni:
- Kalimatnya pendek, dan cocok untuk anak.
- Kalimatnya mudah diucapkan dan tidak ada kata yang sulit diucapkan
- Kalimatnya mudah dihafalkan, karena mempunyai unsur sajak
- Kadang mengandun sapaan, ada jeda, dan ada pertanyaan.
* Sesuai dengan tingkat intelektualitas anak seumurnya.
Anak kita yang masih kacil dengan pemahaman yang masih terbatas, kadang mereka tidak dapat menangkap secara otomatis hikmah dan pelajaran dari apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Karena itu, dengan mengetahui tingkat pertumbuhan yang telah dicapai akal anak, tentu saja akan semakin mudah kita memecahkan banyak persoalan anak. Sehingga kita akan mengetahui kapan kita harus bicara kepadanya, kalimat yang bagaimana yang hendaknya kita pilih, gagasan apa yang hendaknya kita ajukan kepadanya.
Waktu yang tepat untuk menasehati dan berbicara kepada anak.
Nasihat kepada anak tidaklah hanya diberikan ketika anak melakukan kesalahan. Nasihat dapat diberikan pada saat yang lain. Pemilihan waktu yang tepat mempunyai peranan penting untuk mencapai hasil dalam mengarahkan anak. Jika orang tua memilih waktu yang tepat dan mengesankan bagi anak, maka hal ini mempermudah jalan dan menghemat tenaga dalam proses pendidikan. Berikut waktu yang tepat untuk menasehati maupun berbicara kepada anak.
* Saat makan.
Kita sebagai orang tua hendaknya berusaha menyempatkan diri untuk makan bersama seluruh anggota keluarga. Sehingga kita bisa senantiasa mendampingi anak pada saat makan. Jika tidak, maka akan kehilangan kesempatan baik untuk memberikan pengajaran bagi anak kita. Karena, pada saat makan anak biasanya akan mperlihatkan watak aslinya, sehingga kita sebagai orang tua bisa meluruskan kesalahan mereka dengan cara yang baik dan dapat diterima oleh akal dan jiwa mereka.
* Pada saat sakit.
Sakit akan melunakan hati orang dewasa yang keras, apalagi hati anak yang masih penuh kelembutan. Sakit merupakan saat dimana hati lebih terbuka untuk menerima masukan-masukan, termasuk nasehat yang bermuatan kebenaran. Ketika anak sakit, dia mempunyai dua bekal bagi masuknya kebenaran dalam hatinya. Pertama, fitarah anak itu sendiri kedua adalah kelembutan hati dan jiwa disaat sakit.
Keteladanan memang menjadi faktor penting dalam pendidikan. Namun, keteladanan bukanlah satu-satunya hal yang harus ada dalam pendidikan. Ada faktor-faktor lain yang tidak boleh hilang selain keteladanan, yaitu antara lain nasehat dan pengajaran. Dengan nasehat dan pengajaran yang berkesan, akan terbuka jalan masuk ke dalam jiwa dan hati nurani sebagai pusat pembentukan kepribadian.
Bagaimana menasehati anak
Berikut beberapa kiat dalam menasehati buah hati kita agar nasehat yang kita sampaikan bisa diterima dengan baik:
* Berbicaralah kepada anak secara langsung dan jelas.
Berbicara secara langsung, tidak bertele-tele dalam memahamkan anak tentang kebenaran, akan menjadikan anak lebih siap dan kuat untuk menerima nasehat tersebut. Kalimat yang digunakan hendaknya memenuhi sifat-sifat kalimat edukatif yang baik, yakni:
- Kalimatnya pendek, dan cocok untuk anak.
- Kalimatnya mudah diucapkan dan tidak ada kata yang sulit diucapkan
- Kalimatnya mudah dihafalkan, karena mempunyai unsur sajak
- Kadang mengandun sapaan, ada jeda, dan ada pertanyaan.
* Sesuai dengan tingkat intelektualitas anak seumurnya.
Anak kita yang masih kacil dengan pemahaman yang masih terbatas, kadang mereka tidak dapat menangkap secara otomatis hikmah dan pelajaran dari apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Karena itu, dengan mengetahui tingkat pertumbuhan yang telah dicapai akal anak, tentu saja akan semakin mudah kita memecahkan banyak persoalan anak. Sehingga kita akan mengetahui kapan kita harus bicara kepadanya, kalimat yang bagaimana yang hendaknya kita pilih, gagasan apa yang hendaknya kita ajukan kepadanya.
Waktu yang tepat untuk menasehati dan berbicara kepada anak.
Nasihat kepada anak tidaklah hanya diberikan ketika anak melakukan kesalahan. Nasihat dapat diberikan pada saat yang lain. Pemilihan waktu yang tepat mempunyai peranan penting untuk mencapai hasil dalam mengarahkan anak. Jika orang tua memilih waktu yang tepat dan mengesankan bagi anak, maka hal ini mempermudah jalan dan menghemat tenaga dalam proses pendidikan. Berikut waktu yang tepat untuk menasehati maupun berbicara kepada anak.
* Saat makan.
Kita sebagai orang tua hendaknya berusaha menyempatkan diri untuk makan bersama seluruh anggota keluarga. Sehingga kita bisa senantiasa mendampingi anak pada saat makan. Jika tidak, maka akan kehilangan kesempatan baik untuk memberikan pengajaran bagi anak kita. Karena, pada saat makan anak biasanya akan mperlihatkan watak aslinya, sehingga kita sebagai orang tua bisa meluruskan kesalahan mereka dengan cara yang baik dan dapat diterima oleh akal dan jiwa mereka.
* Pada saat sakit.
Sakit akan melunakan hati orang dewasa yang keras, apalagi hati anak yang masih penuh kelembutan. Sakit merupakan saat dimana hati lebih terbuka untuk menerima masukan-masukan, termasuk nasehat yang bermuatan kebenaran. Ketika anak sakit, dia mempunyai dua bekal bagi masuknya kebenaran dalam hatinya. Pertama, fitarah anak itu sendiri kedua adalah kelembutan hati dan jiwa disaat sakit.
Dampak Psikologis Atas Labeling Terhadap Anak
Label atau predikat yang dimaksud disini adalah nama yang diberikan masyarakat atau individu terhadap anak yang mempunyai karakteristik tertentu. Kadang pemberian label tersebut ada yang merupakan penghargaan terhadap diri anak tersebut, tetapi ada juga yang dapat membuat seseorang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan baik buat diri sendiri maupun keluarga.
Anak yang mempunyai label baik yaitu, misalnya:
* Label genius (anak genius).
Merupakan label pada anak yang mempunyai karakteristik tertentu dipandang dari kaca mata peringkat/score kecerdasan, yaitu seorang yang mempunyai score kecerdasan 140 keatas. Label ini tentu saja sangat membanggakan bagi anak bersangkutan maupun keluarganya.
Dia dapat dikategorikan anak yang mempunyai daya ingat dan logika berfikir baik/tinggi, oleh karena itu kalau dikaitkan dengan dengan prestasi belajar, individu yang mempunyai label genius cendrung mempunyai prestasi yang tinggi. Walaupun kadang kesuksesan seseorang dalam karier dan pekerjaan bukan ditentukan oleh IQ semata-mata, tetapi juga EQ (kecerdasan Emosi).
Anak yang mempunyai label negatif, misalnya:
* Label tuna grahita
Merupakan individu yang mempunyai karakteristik tertentu ditinjau dari score kecerdasan yaitu berkisar 25-80 yang dapat dikategorikan menjadi mampu latih, mampu didik, dan lambat belajar.
* Label tuna laras
Merupakan label yang diberikan pada anak yang melakukan prilaku yang menyimpang, dan biasanya oleh masyarakat umum dianggap "anak-anak nakal".
* Label yang lain masih banyak lagi, misalnya : Anak cacat, tuna netra, tuna daksa, tuna rungu, play boy, dan lain-lain.
Sebaliknya bagi anak yang berlabel negatif akan memberikan dampak psikologis baik anak itu sendiri maupun orang tuanya. Anak akan merasa rendah diri, merasa tidak berguna, merasa tidak mampu dan pesimis. demikian juga orang tua yang mempunyai anak yang berlabel negatif, kalau tidak berani menerima kenyataan tentang keadaan anaknya tersebut tentu saja akan merasa malu, merasa martabat keluarga dan dirinya turun. Oleh karena itu tidak jarang keluarga yang mempunyai anak berlabel negatif akan menyembunyikan anaknya atau diungsikan ke tempat yang jauh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa label yang diberikan sejak usia dini sangatlagh berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian yang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (teori empirisme dari Young). Dimana nama atau label yang baik adalah yang mengandung arti dan harapan baik. Nama bukan hanya sekedar identitas saja, tetapi memiliki makna lebih dari sekedar panggilan. Nama atau labeling tidak bisa dihindarkan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita memberikan persepsi yang baik dari nama dan label yang kita berikan.
Anak yang mempunyai label baik yaitu, misalnya:
* Label genius (anak genius).
Merupakan label pada anak yang mempunyai karakteristik tertentu dipandang dari kaca mata peringkat/score kecerdasan, yaitu seorang yang mempunyai score kecerdasan 140 keatas. Label ini tentu saja sangat membanggakan bagi anak bersangkutan maupun keluarganya.
Dia dapat dikategorikan anak yang mempunyai daya ingat dan logika berfikir baik/tinggi, oleh karena itu kalau dikaitkan dengan dengan prestasi belajar, individu yang mempunyai label genius cendrung mempunyai prestasi yang tinggi. Walaupun kadang kesuksesan seseorang dalam karier dan pekerjaan bukan ditentukan oleh IQ semata-mata, tetapi juga EQ (kecerdasan Emosi).
Anak yang mempunyai label negatif, misalnya:
* Label tuna grahita
Merupakan individu yang mempunyai karakteristik tertentu ditinjau dari score kecerdasan yaitu berkisar 25-80 yang dapat dikategorikan menjadi mampu latih, mampu didik, dan lambat belajar.
* Label tuna laras
Merupakan label yang diberikan pada anak yang melakukan prilaku yang menyimpang, dan biasanya oleh masyarakat umum dianggap "anak-anak nakal".
* Label yang lain masih banyak lagi, misalnya : Anak cacat, tuna netra, tuna daksa, tuna rungu, play boy, dan lain-lain.
Sebaliknya bagi anak yang berlabel negatif akan memberikan dampak psikologis baik anak itu sendiri maupun orang tuanya. Anak akan merasa rendah diri, merasa tidak berguna, merasa tidak mampu dan pesimis. demikian juga orang tua yang mempunyai anak yang berlabel negatif, kalau tidak berani menerima kenyataan tentang keadaan anaknya tersebut tentu saja akan merasa malu, merasa martabat keluarga dan dirinya turun. Oleh karena itu tidak jarang keluarga yang mempunyai anak berlabel negatif akan menyembunyikan anaknya atau diungsikan ke tempat yang jauh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa label yang diberikan sejak usia dini sangatlagh berpengaruh terhadap proses pembentukan kepribadian yang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (teori empirisme dari Young). Dimana nama atau label yang baik adalah yang mengandung arti dan harapan baik. Nama bukan hanya sekedar identitas saja, tetapi memiliki makna lebih dari sekedar panggilan. Nama atau labeling tidak bisa dihindarkan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita memberikan persepsi yang baik dari nama dan label yang kita berikan.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Secara tradisional usia kehamilan sering dinyatakan dalam bulan. Untuk mengkonversinya ke dalam hitungan minggu, tentu sangat mudah. Satu b...
-
Sebenarnya perkembangan bayi akan sangat dipengaruhi rangsangan atau stimulasi yang kita berikan. Stimulasi itu dapat berupa aktivitas yang ...
-
Penyakit ini bukanlah penyakit yang asing di telinga kita, karena cukup banyak anak di Indonesia yang terjangkit penyakit ini. Bahkan diperk...
-
Biang keringat atau ruam panas pada bayi meruakan bintik-bintik kecil yang dapat muncul di seluruh bagian tubuh bayi, biasanya timbul pada c...
-
Kehamilan sungsang atau posisi sungsang adalah posisi dimana bayi di dalam rahim berada dengan kepala di atas sehingga pada saat persali...
-
Impetigo merupakanh infeksi kulit yang mudah untuk menjalar/menular. Kebanyakan impetigo menyerang bayi dan anak-anak, yang ditandai dengan ...
-
Perawatan dan pengobatan demam tifoid ( Typhoid fever ) adalah dengan meniadakan serangan kuman mempercepat pembasmian kuman, memperpendek ...
-
Yaitu adanya cairan yang keluar di sekitar tali pusat bayi. Tetapi merupakan hal yang normal apabila pendarahan yang terjadi disekitar tali ...
-
Diare merupakan penyakit dimana penderita mengalami perangsangan buang air besar dan terus-menerus dimana tinja atau feses sangat lunak dan ...
-
Radang otak atau sering dikenal dengan meningitis merupakan peradangan di selaput-selaput otak yang disebut meningen, yang mengelilingi otak...






